Articles · Tugas-tugas Kuliah

Komunikasi Antarbudaya yang Efektif

  1. I.                  ARTI KOMUNIKASI BUDAYA YANG EFEKTIF

Seluruh proses komunikasi pada akhirnya menggantungkan keberhasilan pada tingkat ketercapaian tujuan komunikasi, yakni sejauh mana para partisipan memberikan makna yang sama atas pesan yang dipertukarkan. Itulah yang dikatakan sebagai komunikasi antarbudaya yang efektif, sering disebut pula dengan efektivitas komunikasi antarbudaya.

Kata Gudykunst, jika dua orang atau lebih berkomunikasi antarbudaya secara efektif maka mereka akan berurusan dengan satu atau lebih pesan yang ditukar (dikirim & diterima) ; mereka harus bisa memberikan makna yang sama atas pesan. Singkat kata, komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dihasilkan oleh kemampuan para partisipan komunikasi lantaran mereka berhasil menekan sekecil mungkin kesalahpahaman (Gudykunst, 1991, hlm.24).

Everet Rogers dan Lawrence Kincaid juga mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya yang efektif terjadi jika muncul mutual understanding atau komunikasi yang saling memahami. Yang dimaksudkan dengan saling memahami adalah keadaan dimana seseorang dapat memperkirakan bagaimana orang lain memberi makna atas pesan yang dikirim dan menyandi balik pesan yang diterima. Satu hal yang patut diingat bahwa pemahaman timbal balik itu tidak sama dengan pernyataan setuju, tetapi hanya menyatakan dua pihak sama-sama mengerti makna dari pesan yang  dipertukarkan itu (Rogers & Kincaid, 1981).

Efektivitas komunikasi antar budaya dapat meliputi beberapa aspek, yakni :

  1. Komunikasi yang efektif harus memperhatikan beberapa syarat, yaitu (1) jenis keterampilan komunikasi seperti apakah yang paling banyak dibutuhkan (2) jenis keterampilan berkomunikasi seperti apakah yang dirasakan paling sulit, (3) jika ada kesulitan maka dimanakah seseorang dapat memperoleh bantuan, dan (4) kapankah jadwal yang tepat untuk memperbaharui keterampilan berkomunikasi.
  2. 2.      Kebanyakan komunikasi antar budaya bersifat oral atau lisan. Karena itu, aktivitas komunikasi seperti ini harus dapat menjawab beberapa pertanyaan mendasar : (1) what do you want to say, (2) how do you want to say, (3) to whom you want to say it, (4) to whom are you talking, dan (5) meta message.
  3. Efektifitas komunikasi antar personal ditentukan oleh cara menghormati pribadi orang lain, mendengarkan dengan senang hati, mendengarkan tanpa menilai, keterbukaan terhadap perubahan dan keragaman, empati, bersikap tegas, dan kompetensi komunikasi. Artinya, komunikasi antar budaya ditentukan pula oleh faktor kebiasaan mendengar. Oleh karena itu, periksalah sikap mendengarkan anda apakah termasuk dalam kategori poor listening habit atau active listening habit.
  4. Konsep diatas sama dengan kemampuan untuk memisahkan secara jelas cara-cara mendeskripsi, interpretasi, dan cara mengevaluasi pesan ; kemampuan untuk menggunakan umpan balik atau feedback ; kemampuan untuk mendengarkan secara efektif ; kemampuan untuk bermeta-komunikasi.
  5. Pemahaman terhadap variabel kognitif dan personal yang dipakai untuk menerangkan komunikasi antar budaya yang efektif terinci atas :
    1.  yang berorientasi pada perilaku kerja antarbudaya
    2. Perilaku yang berorientasi pada self atau diri sendiri
    3. Etnosentrisme
    4. Toleransi terhadap situasi yang ambigu
    5. Empati
    6. Keterbukaan
    7. Kompleksitas kognitif
    8. Menyenangkan hubungan antar pribadi
    9. Kontrol personal
    10. Kemampuan inovatif
    11. Harga diri
    12. Daya serap informasi
  1. II.               BEBERAPA SYARAT BERKOMUNIKASI EFEKTIF ANTARBUDAYA

Kita mulai dengan menjelaskan prinsip (atau dalam banyak kepustakaan komunikasi antarbudaya disebut sebagai aksioma) komunikasi antarbudaya.

  1. 1.     Keinginan Menciptakan Iklim Komunikasi

 

Orang Mendambakan Komunikasi Antarbudaya yang Efektif

            Banyak relasi sosial dan ekonomi terpaksa hilang hanya karena orang tidak memberikan perhatian yang cukup mendalam atau karena orang tidak mengerti kebudayaan orang lain, apalagi jika kurang terampil berkomunikasi antarbudaya. Thibaut dan Kelley (1959) dalam teori pertukaran sosial mengatakan bahwa perasaan tertarik dari orang lain kepada kita sangat tergantung pada sejauhmana kita memberikan ganjaran sosial demi kepuasan hati orang lain. Ini tidaklah berarti bahwa setiap orang yang berkomunikasi antarbudaya harus selalu bersifat sosial, tetapi sekurang-kurangnya di balik kelakuan itu ada motivasi untuk membangun relasi sosial melalui tampilan wajah yang bersahabat atau ungkapan kata-kata yang santun. Semua itu perlu ditunjukkan untuk menampilkan kesan bahwa kita hadir untuk memindahkan pesan dan sekaligus menciptakan relasi sebagaimana yang disukai orang lain.

Variabel Iklim Komunikasi

            Gudykunst (1977) mengatakan bahwa iklim komunikasi adalah suasana kebatinan saat komunikasi itu berlangsung. Sekurang-kurangnya iklim komunikasi ditentukan oleh 3 dimensi, yaitu perasaan positif, aras kognitif, dan aras perilaku. Dimensi perasaan positif berisi perasaan adil, menyenangkan, aman, menerima, dan tingkat kecemasan yang rendah. Dimensi kognitif meliputi derajat kepercayaan yang kita bawa dalam suasana komunikasi, seperti adanya harapan, kepastian, pemahaman, dan memenuhi hasrat ingin tahu. Dan dimensi perilaku terlihat dalam tindakan dan ketrampilan anda waktu berkomunikasi melalui kata dan perbuatan.

            Selain Gudykunst, Wiseman dan Hammer (1977) juga menegaskan bahwa untuk mengatasi iklim komunikasi anda dapat menciptakan bentuk ‘kebudayaan ketiga’ yang lebih netral agar dua pihak bisa menerimanya. Harris dan Morran (1991) menunjukkan beberapa indikasi terciptanya efektivitas komunikasi antarbudaya, yaitu hadirnya iklim yang tidak mengancam, terbukanya pintu komunikasi, adanya pengelolaan percakapan yang lebih baik, dan terwujudnya relasi yang memuaskan dua pihak. Dengan kata lain, dalam rangka menciptakan ‘budaya ketiga’ itu kita harus cepat mengidentifikasi faktor-faktor pembentuk iklim komunikasi yang positif.

 

  1. Menjawab Beberapa Pertanyaan Budaya Berkomunikasi

Tatkala berlangsungnya komunikasi antarbudaya maka aktivitas komunikasi selalu diawali oleh perasaan bimbang tentang ‘siapakah sebenarnya orang yang akan berkomunikasi dengan anda?’ jawaban atas pertanyaan itu adalah dengan menentukan pilihan keterampilan berkomunikasi secara efektif.

Identifikasi Jenis Keterampilan Komunikasi

Periksalah diri anda melalui self concept, keterampilan mana yang paling banyak dibutuhkan dalam komunikasi antarbudaya? Jika anda berhadapan dengan seseorang yang datang dari latar belakang kebudayaan low context culture, sementara anda sendiri datang dari kebudayaan high context culture maka anda tidak perlu menguraikan pesan secara terinci. Ketrampilan anda sangat ditentukan oleh bagaimana menyampaikan pesan secara ringkas, tidak bertele-tele, sehingga maknanya mudah diterima tanpa ada perasaan bosan. Mereka yang berasal dari budaya low context culture tak terlalu suka dengan rincian pesan, mereka lebih suka kalau pesan yang disampaikan itu hanya garis-garis besarnya saja. Begitu pula sebaliknya, apabila anda akan ikanmenyampaikan pesan kepada orang dengan kebudayaan high context culture, maka anda harus menyampaikannya secara terperinci.

Memastikan Jenis Ketrampilan Berkomunikasi

            Pastikan jenis keterampilan berkomunikasi mana yang anda rasa paling sulit, keterampilan itulah yang harus anda pelajari, lalu anda lakukan. Ketika berhadapan dengan komunikan antarbudaya yang sangat mengutamakan senioritas maka perhatikan kebiasaan berkomunikasi mereka, dengan membiarkan orang-orang yang lebih tua berbicara lebih banyak dan lebih dahulu daripada anda yang lebih muda.

Memahami Kebiasaan Berkomunikasi Lisan

            Kebanyakan komunikasi antarbudaya bersifat lisan. Rencakan dengan seksama tentang apa (pesan) yang ingin anda katakana. Apakah kata-kata, kalimat, dan ungkapan pesan yang disampaikan itu diterima oleh komunikan antarbudaya. Penting sekali bagi anda untuk memahami what do you want to say.

Tahap berikutnya adalah memahami bagaimana cara anda mengatakan. Ada beberapa kebudayaan yang mengajarkan anggotanya untuk mengatakan sesuatu secara langsung, namun sebaliknya ada juga yang lebih menyukai ungkapan tidak langsung. Persoalannya disini adalah how do you want to say.

            Aspek selanjutnya yang juga tak kalah penting ialah dengan siapa anda berkomunikasi antarbudaya. Jadi, perhatian diletakkan pada to whom you want to say it, to whom are you talking, dan metamessages yakni memperhatikan pesan komunikasi yang mengutamakan aspek relasi antarbudaya.

Mendengarkan Secara Aktif

            Salah satu syarat komunikasi antarpribadi yang efektif adalah mendengarkan secara aktif. Jika selama ini para ahli komunikasi mendefinisikan komunikasi antarbudaya sebagai komunikasi antarpribadi dari komunikator ke komunikan yang berbeda latar belakang budayanya maka komunikasi antarbudaya yang efektif juga ditentukan oleh mendengarkan secara aktif. Hal ini penting untuk menunjukkan pribadi anda yang selalu menghormati pribadi orang lain apa adanya, dan bukan sebagaimana yang anda kehendaki. Anda diminta untuk mendengarkan dengan senang hati dan mendengarkan tanpa menilai. Perilaku ini sekaligus menunjukkan bahwa pelaku komunikasi antarbudaya menghargai keterbukaan terhadap perubahan dan keragaman, juga berempati dengan komunikan.

 

Memanfaatkan Umpan Balik

Beth Haslett dan John Ogilvie (1988) mengemukakan bahwa pemanfaatan umpan balik dalam berkomunikasi antarbudaya bermanfaat agar umpan balik dapat diungkapkan secara langsung dan khusus serta didukung oleh bukti-bukti; umpan balik sedapat mungkin memenuhi kebutuhan (menjawab maksud pesan); umpan balik menjurus pada pemenuhan kebutuhan sekarang (jangan membiarkan orang bertambah bimbang); jangan menambah kebingungan orang dengan umpan balik negative (bereaksi dengan verbal maupun nonverbal), campurlah umpan balik negative dengan positif; nyatakan umpan balik pada waktu yang tepat, jangan menunda; nyatakan umpan balik secara tegas, dinamis, responsive dan dengan gaya santai; umpan balik harus dapat dinyatakan secara jujur, adil, dan dapat dipercaya oleh orang lain.

  1. 3.     Variabel Kognitif, Variabel Personal, dan Efektivitas Komunikasi Antarbudaya

Komunikasi yang efektif akan membantu setiap orang untuk mengembangkan relasi antarpribadi dalam tugas dan fungsinya, dalam pekerjaan, dan sebagainya. Dalam komunikasi antarbudaya selalu muncul adagium tentang kebimbangan terhadap komunikan, misalnya kita tidak mengenal secara baik tentang orang lain, lawan bicara kita, dan keadaan lawan bicara kita tidak dapat diramalkan, seringkali bersifat tidak bersahabat dan lainnya. Pemahaman terhadap variabel kognitif dan personal yang dipakai untuk menerangkan komunikasi antarbudaya yang efektif terinci atas beberapa indikator :

                        Desakan Perilaku yang Berorientasi pada Tugas

            Masyarakat yang mempunyai konsep waktu polikronik cenderung melaksanakan banyak tugas tanpa perencanaan berjadwal. Masyarakat seperti itu memahami relasi antarmanusia dalam melaksanakan tugas bersifat personal, menghargai kebersamaan (kolektif), dan sering mengabaikan relasi berdasarkan tugas (impersonal). Sebaliknya, dalam masyarakat monokronik cenderung sangat taat pada ‘ kalender kerja ‘, membina relasi berdasarkan tugas, sering sangat individual sehingga menampakkan sifat impersonal.

Perilaku yang Berorientasi pada Diri

Kebalikan dari orientasi kerja (task oriented) adalah orientasi pada diri sendiri (self oriented). Perilaku yang berorientasi pada diri sendiri selalu mengutamakan dirinya. Komunikasi yang terlalu berorientasi pada diri sendiri menimbulkan disfungsional yang tinggi. Komunikasi yang berorientasi pada diri cenderung menempatkan seorang komunikator atau komunikan menolak pesan-pesan yang dipertukarkan, tingginya derajat etnosentrime, tingginya perasaan superior, dan saling merendahkan. Orientasi seperti ini biasanya dimiliki oleh masyarakat yang lebih mengandalkan otak daripada hati, mengutamakan rasio daripada emosi.

Etnosentrisme

Etnosentrisme adalah sikap menganggap kebudayaan sendiri lebih unggul daripada kebudayaan orang lain. Jika dalam komunikasi antarbudaya anda menampilkan sikap etnosentrisme, maka faktor tersebut merupakan hambatan bagi penciptaan suatu komunikasi yang efektif. Perhatikanlah sasaran komunikasi anda, apakah dia tergolong sebagai seseorang dengan derajat etnosentrisme yang tinggi? Jika benar maka anda akan sukar memperoleh komunikasi antarbudaya yang efektif karena apa yang anda katakan akan dianggapnya tidak ada.

Toleransi terhadap Keadaan Mendua

Kita harus menghadapi perbedaan budaya dengan sangat hati-hati. Dalam kondisi seperti ini, kita sedang menghadapi suatu situasi yang ambigu, mendua yang membuat kita tidak luwes dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, dianjurkan anda untuk bersikap seluwes mungkin dan memperlakukan orang lain sebagaimana apa adanya, jika perlu anda menyesuaikan diri dengan apa yang mereka butuhkan.

Empati

Sikap empati adalah sikap yang perlu dibangun melalui peletakan diri kita kedalam hati orang lain. Bersikap empati berarti kita memasuki ruang dan relung pikiran, perkataan, dan perasaan orang lain. Komunikasi antarbudaya menuntut kita untuk memahami segala sesuatu dari mereka, pandangan dan pendapat mereka yang kritis, inovasi yang mereka anjurkan, perasaan suka dan duka yang mereka rasakan, hingga aktif dalam tindakan bersama.

Keterbukaan

Berbagai penelitian, sebagaimana diungkapkan oleh De Vito, mengemukakan bahwa gaya komunikasi antarpribadi yang terbuka dan luwes lebih disukai dalam komunikasi manusia, keterbukaan merupakan faktor penting dalam penciptaan dan pengembangan relasi yang maksimum.

Kompleksitas Kognitif

Kompleksitas kognitif berkaitan dengan kerumitan isi pengetahuan tentang suatu pesan yang sedang dibicarakan, komunikasi antarbudaya meliputi juga isi tema-tema yang disukai oleh kedua belah pihak. Kebanyakan komunikasi menjadi tidak efektif lantaran orang tidak memperhatikan tema atau isu pembicaraan.

Menyenangkan Hubungan Antarpribadi

Komunikasi antarpribadi menjadi efektif kalau menyenangkan dua pihak. Kadan-kadang kegembiraan mendorong orang untuk menerima informasi (meskipun informasi itu salah). Upayakanlah komunikasi antarpribadi yang menyenangkan dua pihak.

Daya Serap Komunikasi

Daya serap komunikasi merupakan satu variabel yang kerap kali dilupakan sewaktu kita berkomunikasi. Terkadang kita kurang memperhitungkan kemampuan orang lain, misalnya sampai berapa lama dia mampu mendengarkan kita, sampai berapa lama dia mampu melihat kita. Setiap orang dalam kebudayaannya memiliki kemampuan yang terbatas untuk bersikap toleran terhadap perbedaan-perbedaan itu.

Efektif Tidak Efektif
Mementingkan relasi antarmanusia, kurang menekankan tugas. Mengutamakan tugas, kurang memperhatikan relasi antarmanusia.
Hanya sedikit menampilkan diri. Terlalu banyak menonjolkan diri.
Etnosentrisme rendah. Etnosentrisme tinggi.
Empati tinggi, mendengarkan. Empati rendah, kurang mendengarkan.
Toleransi tinggi pada keadaan yang ambigu. Toleransi rendah pada keadaan yang ambigu.
Keterbukaan diri besar, dogmatism rendah. Keterbukaan diri kecil, dogmatism tinggi.
Kompleksitas kognitif. Kesederhanaan kognitif.
Suka pada relasi antarpribadi, kejujuran, dan keadilan. Kurang suka pada relasi antarpribadi, kurang jujur dan kurang adil.
Kontrol pribadi tinggi, sikap fatalisme yang rendah. Kontrol pribadi rendah, tinggi fatalismenya.
Inovasi yang tinggi dan harga diri tinggi. Inovasi dan harga diri yang rendah.
Daya serap rendah. Daya serap tinggi.
  1. III.           KATEGORI KEBIASAAN BERKOMUNIKASI YANG EFEKTIF

Kebudayaan mewariskan kepada manusia sebuah identitas yang disebut identitas budaya. Paradigma berikut ini dapat digunakan sebagai alat untuk memahami makro budaya maupun mikro budaya orang lain. Kategori berikut dapat digunakan sebagai studi atau uji coba dalam setiap kelompok orang yang berkebudayaan berbeda dengan kita.

  1. 1.      Peka Ruang dan Peka Jarak

Komunikasi antarbudaya yang efektif menuntut orang untuk peka terhadap ruang dan peka terhadap jarak. Yang dimaksudkan dengan peka terhadap ruang dan jarak adalah pemahaman kita tentang bagaimana seharusnya para peserta komunikasi memahami ruang dan jarak, antara lain jarak fisik tatkala berlangsungnya komunikasi. Kerap kali lantaran kita tidak mengetahui, memahami, atau mungkin sekali melanggar ruang atau jarak fisik akan dapat menghasilkan kegagalan berkomunikasi, bahkan mungkin konflik antarpribadi.

  1. 2.      Peka terhadap Budaya Komunikasi dan Berbahasa

Komunikasi antarbudaya yang efektif menuntut kita untuk memahami bahasa, memahami komunikasi, serta memahami bahasa dan komunikasi. Perbedaan antarbudaya (bahkan intrabudaya sekalipun) mempengaruhi interpretasi atas makna pesan yang terkandung dalam bahasa, tanda, dan symbol (baik verbal maupun nonverbal).

  1. 3.      Bisa Tampil dengan Pakaian Khas

Efektivitas komunikasi antarbudaya menuntut orang untuk terlibat dalam tampilan dengan pakaian budaya orang lain. Dalam komunikasi antarbudaya, salah satu cara untuk menciptakan komunikasi yang efektif adalah memilih untuk tampil dalam kebudayaan material, misalnya mengenakan pakaian dari budaya setempat.

  1. 4.      Dapat Mencicipi Makanan dan Minuman

Efektivitas komunikasi antarbudaya menuntut orang agar dapat mencicipi makanan khas budaya orang lain, bahkan memasak dan cara menyajikannya. Komunikasi antarbudaya yang efektif sering ditentukan oleh ketersediaan anda untuk mencicipi dan makan makanan khas yang berasal dari budaya lain. Dikarenakan beberapa kebudayaan tertentu menjadikan makanan dan minuman sebagai wahana pemersatu, media pertemuan kelompok.

  1. 5.      Sadar atas Konsep Waktu

Komunikasi antarbudaya yang efektif menuntut kita agar peka terhadap waktu dan meningkatkan kesadaran atas waktu. Tanggapan manusia terhadap waktu berbeda-beda berdasarkan latar belakang  budaya

  1. 6.      Peka terhadap Hubungan

Efektivitas komunikasi antarbudaya menuntut setiap orang yang berkomunikasi untuk peka terhadap hubungan (relationships). Setiap kebudayaan menetapkan dengan pasti dan tetap bagaimana seharusnya manusia berhubungan dalam berbagai konteks. Konteks itu bisa meliputi keluarga (inti dan luas), usia, jenis kelamin, status social, kekuasaan, dan kebijaksanaan. Pelajarilah konsep-konsep relasi itu sekaligus perbedaan-perbedaan yang menentukan derajat jauh-dekatnya relasi tersebut karena setiap relasi berimplikasi pada kekuasaan dan kewenangan tertentu.

  1. 7.      Peka terhadap Nilai dan Noma

Sukses komunikasi antarbudaya dapat dicapai hanya jika anda dapat memahami dan menjalankan norma-norma budaya komunikan. Perbedaan antaretnik, antarras menggambarkan pula perbedaan nilai dan norma melalui orientasi hidup mereka.

  1. 8.      Peka terhadap Kepercayaan dan Sikap

Komunikasi antarbudaya yang efektif ditentukan oleh bagaimana orang memahami kepercayaan dan sikap kebudayaan orang lain. Pergaulan dengan orang-orang dari suku bangsa maupun agama yang lain ditentukan oleh sejauh mana anda menunjukkan sikap peka dan kepedulian terhadap kepercayaan orang lain.

  1. 9.      Memahami Kebiasaan Bekerja

Dimensi lain untuk menggambarkan budaya kelompok dan sikap antarbudaya adalah melalui pemahaman terhadap konsep kerja. Kerja dapat didefinisikan sebagai setiap bentuk usaha atau ikhtiar yang secara langsung menghasilkan sesuatu.

Kebudayaan tertentu melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang memasukkan pendapatan, atau mungkin suatu jenis pekerjaan hanya dipandang sebagai status, atau mengutamakan pekerjaan sebagai pelayan Tuhan, atau hanya sekedar menggambarkan komitmen moral.

  1. 10.  Memahami Sistem Ekonomi

System ekonomi suatu kebudayaan berisi pengaturan cara suatu masyarakat memproduksi, mendistribusikan, menjual, membeli, kredit dan sebagainya. Seringkali kita melakukan kerjasama ekonomi melintasi batas budaya sehingga pemahaman terhadap system ekonomi menjadi sangat penting didasari oleh system budaya ekonomi.

  1. 11.  Memahami Sistem Politik

System politik mengandung pembagian kekuasaan untuk memerintah, mengatur, mengelola pemerintahan, dan perwakilan rakyat. Terdapat perbedaan antarbudaya, antarbangsa sekaligus konsep mengenai besarnya wewenang dan kekuasaan untuk memerintah rakyatnya.

  1. 12.  Memahami Sistem Kesehatan

Kebudayaan juga memberikan peluang bagi kita untuk mempelajari konsep tentang sakit, termasuk di dalamnya bagaimana cara mencegah, mengobati, menghalau kekerasan, dan mengatasi kecelakaan. Beberpa masyarakat modern menggantungkan seluruh perawatan kesehatan pada dokter, rumah sakit atau spesialis medis. Namun pada masyarakat tertentu, masih banyak orang sakit yang bergantung pada dukun, jampi-jampi, para normal, atau meramu daun dan akar sebagai obat-obatan tradisional.

  1. 13.  Memahami Sistem Rekreasi

Konsep rekreasi berkaitan erat dengan bagaimana sosialisasi dalam suatu masyarakat tentang penggunaan waktu luang. Apa yang mungkin sekali dalam satu kebudayaan dianggap sebagai permainan, di budaya lain belum tentu.

KESIMPULAN DAN SARAN

Komunikasi merupakan aktifitas yang selalu dilakukan oleh manusia selama masih hidup dan berhubungan dengan manusia lainnya. Dalam proses komunikasi tersebut manusia sangat mendambakan komunikasi yang lancar dan efektif, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang menjurus pada konflik.

Dan pada hakekatnya seluruh keberhasilan proses komunikasi pada akhirnya tergantung pada efektifitas komunikasi. Yakni sejauh mana para partisipan nya memberi makna yang sama atas pesan yang dipertukarkan. Pada gilirannya latar belakang budaya partisipan senantiasa berbeda walau sekecil apapun perbedaan itu akan sangat menentukan efektivitas itu. Oleh karenanya memahami makna budaya dan segala yang terakit dengan itu merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan demi tercapainya komunikasi yang efektif. 

Sumber :

Liliweri MS, Alo. 2003. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta : LKIS.

Mulyana, Deddy. 2008. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Riswandi. 2009. Ilmu Komunikasi. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Bangunan, Marasakti. Komunikasi Lintas Budaya yang Efektif. http://abahmarasakti.wordpress.com (Diakses pada 17 November 2011).

8 thoughts on “Komunikasi Antarbudaya yang Efektif

  1. maaf ibu, artikel ibu judulnya komunikasi budaya efektif tapi kok penjelasannya komunikasi antar budaya efektif? setahu saya komunikasi budaya dan antar budaya itu beda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s